Niken Bicara Pengalaman : Ngurus Rawat Inap Dengan Bpjs



Kali ini saya nggak lagi coba ngomongin film, tapi cuma mau menyebarkan pengalaman gimana ngurus masuk rawat inap dengan BPJS. Siapa tau pengalaman ini sanggup membantu teman-teman lain. Saya tau pengurusan BPJS dan kebijakan setiap rumah sakit berbeda-beda, jadi saya nggak tahu niscaya apakah pengalaman saya ini sesuai juga jikalau diterapkan di rumah sakit lain, tapi mungkin secara garis besar kurang lebihnya serupa.

Oke, batas kasus di sini yaitu pengalaman rawat inap (dalam hal ini operasi) di RSUD Dr. Sutomo Surabaya. Kebetulan ibu saya tahun 2016 ini harus 3 kali masuk rumah sakit, dua kali untuk operasi ginjal, dan satu kali proses katerisasi jantung. Ibu saja dosen, jadi BPJS-nya berupa Askes Golongan IV.

Pertanyaan yang sering terucap adalah:
Apakah ribet masuk rumah sakit dengan BPJS? 
Jawabannya: emhhhh... ribet. Apa ribet banget? Enggak juga. Selama tahu gimana prosedurnya. Emang mbulet, tapi ya dilakoni wae. Saya beruntung dalam kasus ini domisili saya juga di Surabaya, jadi pengurusan segala manajemen jauh lebih mudah, dan sanggup bolak-balik rumah-rumah sakit kalo ada yang kurang. Nggak kebayang kalo yang dari luar kota dan harus dirujuk ke rumah sakit provinsi, kalo ada yang nggak lengkap bisa-bisa yang stress nggak cuma yang sakit, tapi yang kudu ngurus BPJS juga! Pengalaman kemarin, berbagai orang yang harus balik ke kota asalnya SAAT ITU JUGA gara-gara jaminan BPJS nya gag keluar alasannya yaitu berkasnya nggak lengkap.

Oke, jadi gimana sih tahap-tahap pengurusannya?

1. Pastiin Anda punya kartu BPJS / Askes / Jamsostek.

Ya iyaa lah.
Saya nggak tahu pastinya berapa usang Anda harus punya BPJS sebelum hasilnya sanggup memakai BPJS-nya. Ada yang bilang 3 bulan, tapi ada juga yang bilang sanggup eksklusif digunakan.

2. Buat Surat Rujukan 

- Untuk kondisi darurat, Anda sanggup eksklusif masuk ke UGD Rumah Sakit yang Anda tuju (pastikan rumah sakitnya nerima BPJS).

- Untuk kondisi stabil yang tidak butuh eksklusif ke UGD, Anda harus ngurus surat acuan dulu. Ibu saya domisili di Surabaya - ITS, surat acuan pertama harus dibentuk ke Faskes 1 (dalam hal ini Medical Centre ITS), ketemu dokter umum. Bilang harus operasi dll. Nanti akan dibuatkan surat acuan ke rumah sakit. Nah, kebetulan RSUD Dr. Sutomo daerah rencana Ibu saya operasi merupakan Rumah Sakit utama, jadi dari Faskes nggak sanggup eksklusif dirujuk ke RSUD Dr. Sutomo. Dari Faskes, Ibu saya dirujuk dahulu ke Rumah Sakit Universitas Airlangga yang kebetulan masih Tipe C ketika ini, dan nggak sanggup menangani kasus operasi yang dibutuhkan ibu saya. Di Rumah Sakit Unair, ibu saya harus antri di polikliniknya (antrinya tidak mengecewakan lama, kalo kerja kudu mangkir alasannya yaitu sanggup makan waktu dari pagi sampe sore), kemudian ketika sudah ketemu dokternya, bilang butuh acuan ke RSUD Dr. Sutomo. Nanti akan dibuatkan Surat Rujukan ke RSUD Dr. Sutomo. Surat Rujukan ini harus ditembusi dulu ke BPJS Rumah Sakit Unair (semacam disahkan), nah habis gitu gres deh sanggup dibawa ke RSUD Dr. Sutomo.

- Oh ya, surat acuan ini punya kadaluarsa 1 bulan lho. Jadi, harus masuk rumah sakit dalam waktu 1 bulan semenjak surat acuan diterbitkan. Kalau enggak, surat rujukannya tidak berlaku. Lalu, apa sanggup BPJS mengcover 2 kali operasi dalam 1 bulan? Bisa kok, ibu saya operasi 2 kali dalam waktu 1 bulan dengan surat acuan yang sama dan sanggup dicover dua-duanya. Hidup BPJS!

3. Masuk Rumah Sakit

Saya mau sedikit dongeng dulu wacana alur untuk sanggup dioperasi di RSUD Dr. Sutomo. Bagi yang BPJS "biasa" (maaf saya nggak hapal macam-macam BPJS) atau yang belum tau mau ke dokter siapa, sanggup lewat polikliniknya untuk diarahkan ke Irna Bedah sesuai kelasnya. Nanti akan dioperasi sesuai dengan shift dokter yang bertugas. Tapi cara begini dijamin agak ribet... Saya pernah dengar dongeng seorang ibu yang stress anaknya harus "antri" operasi hingga 2 bulan, walaupun sang anak sudah masuk di kamar inap. Akhirnya sang ibu memindahkan anaknya ke IRNA Bedah Kelas 1 (dengan perhiasan biaya, tentu saja) dan sanggup eksklusif dioperasi 5 hari kemudian.

Kasus ibu saya kemarin, kebetulan sudah ketemu dengan dokternya di luar RSUD Dr. Sutomo, dan sudah dijadwalkan secara private untuk kapan rencana operasinya. Dan berhubung ibu saya Askes, jadi sanggup masuk ke IRNA Bedah kelas 1, walaupun katanya harus nambah biaya. Jadi, saran saya sebaiknya cari rekomendasi dokter terlebih dahulu, temui di daerah prakteknya - dan bikin jadwal kira-kira kapan sanggup operasi. Baru deh buat surat acuan yang diperlukan, kemudian antri kamar inap. (Btw, antri operasi gres sanggup dilakukan jikalau sudah sanggup kamar inap).

Di RSUD Dr. Sutomo sendiri ada namanya GRIU Graha Amerta, yang semacam "swasta"-nya Dr. Sutomo. Kalau Anda mau masuk Graha Amerta, dijamin pengurusan BPJS akan jauh lebih simpel alasannya yaitu sudah dihandle oleh pihak rumah sakit. Paling Anda cuma butuh bawa surat acuan dan kartu BPJS. Tapi memang setau saya,Anda harus tau terlebih dahulu siapa dokternya, dan emang biayanya lebih mahal. Masuk GRIU Graha Amerta sendiri "susah-susah" gampang, alasannya yaitu dapet kamarnya tidak mengecewakan susah. Teman saya ada yang harus "njagong" di lobby rumah sakit untuk sanggup antri dapet kamar. Prosesnya memang siapa cepat ia dapat. Ada yang bilang kemungkinan kamar kosong lebih besar pas hari Kamis hingga Minggu. Selain itu, sistem di GRIU Graha Amerta mengharuskan kita bayar terlebih dahulu seluruh biaya rumah sakit, gres direfund beberapa hari setelahnya. Mirip dengan asuransi umum di rumah sakit swasta ya.

Untuk yang di IRNA Bedah RSUD Dr. Sutomonya, ngurus manajemen rawat inapnya tidak mengecewakan bikin senewen. Senewen kalau Anda nggak tahu prosesnya. Kebetulan saya termasuk orang yang well-prepared, jadi pas ngurusin ibu saya, nggak ada hambatan sama sekali. Paling capek aja harus muter-muter Rumah Sakit sebegitu besarnya. Oke, begini kira-kira pengalaman saya kemarin:

- Setelah sanggup calling atau telpon dahulu ruang rawat inap bedahnya dan sanggup kamar kosong, berangkatlah saya, ibu saya dan keluarga.

- Yang harus dibawa:

  • Kartu Askes / BPJS / Jamsostek
  • Kartu Rumah Sakit
  • Kartu Identitas (KTP/SIM) Pasien
  • Kartu Identitas yang ngurus pasien (ini perlu nanti di bab keluar rumah sakit)
  • Surat Rujukan + Pengesahan BPJS (jangan lupa, yang masih berlaku. Masa berlakunya 1 bulan).
  • Surat Masuk Rumah Sakit (biasa dapet dari dokternya). 
  • Kartu Keluarga 
  • Map (buat nyimpen berkas-berkas manajemen maupun berkas hasil lab / investigasi / dkk)
  • Alat tulis (bolpen, staples, gunting kalo perlu)
- Setelah dapet kamar, kita harus antri registrasi rawat inap rumah sakit. Nanti dapet map isinya berkas-berkas rekam medik pasien gitulah, serahkan ke suster di ruang rawat inap.

- Habis antri pendaftaran. Langkah selanjutnya yaitu ke Penjaminan BPJS. Kalo di RSUD Dr. Sutomo, loket Penjamin BPJS ini letaknya jauh banget sama daerah pendaftarannya yang ada di IRD / Gedung Diagnostic Centre (GDC). Lumayan bikin pegel kaki, mana kan RSUD Dr. Sutomo gedhe banget. Untuk pasien masuk, antri di loket Pasien Masuk. Pengalaman di sini tidak mengecewakan usang antrinya. Bisa 2-3 jam sendiri. Loket buka setengah 8 pagi, orang sanggup udah antri dari jam 6. Siapkan berkas yang diharapkan yang sudah saya sebutkan di atas (plus nanti dapet surat keterangan rawat inap dari ruang rawat inapnya), jangan lupa difotokopi 2 kali. Serahkan berkasnya (entar orangnya milih mana berkas yang dibutuhin mana yang enggak, yang enggak dibalikin lagi, yang kurang diminta hingga ada... lha di sini yang ribet banget hingga orang harus pontang-panting balik ke rumah untuk ambil berkas yang kurang). Habis berkas diserahkan, nunggu diri dipanggil hingga dapet semacam form BPJS. Akan ada 2 lembar, yang putih diserahkan ke ruangan, yang merah dibawa dan gag boleh hilang alasannya yaitu diharapkan untuk ngurus ambil obat di farmasi. Form ini difotokopi sebanyak mungkin (kira-kira 20-an lah) dijepret dengan fotokopi kartu BPJS dan disebut "1 bundle", diharapkan untuk nebus obat atau ngurus manajemen operasi dll.

- Sejauh pengalaman saya, selama proses dirawat inap, harus ada keluarga yang nungguin pasien. Karena nebus obat di farmasi harus ditangani keluarga, belum lagi kalo gag ada obat di rumah sakit dan harus cari di apotek di luar... dan memang prosesnya semi "swalayan", jadi memang harus ada keluarga / sahabat yang agak ribet muter rumah sakit ngurus ini-itu, gag cuma manajemen tapi juga misal ambil dan setor cek lab.

4. Keluar Rumah Sakit

- Nah kalo masuknya agak ribet, keluar rumah sakit agak ribet pula. TU ruangan rawat inap akan kasih berkas manajemen dan total biaya yang harus kita bawa muter-muter. Pertama, kita ke rekam medik. Nah rekam medik RSUD Dr. Sutomo ini letaknya ada di ujung bab depan. Setelah itu kita kembali ke Loket Penjamin BPJS, antri di loket Pasien Keluar. Hati-hati aja, kalo lewat dari jam setengah 3 (hari biasa selain Jumat), loket ini tutup dan gag ada ampun sama pasien yang mau ngurus sesudah jam setengah 3 (kemarin ada beberapa kejadian gini, saya gag tega, dan nggak tahu deh gimana nasibnya orang-orang yang telat ini - masak iya harus tidur 1 malam lagi di rumah sakit?). Setelah nama kita dipanggil, dari BPJS dapet hasil keluar data berapa biaya yang ditanggung BPJS dan berapa sisa yang harus kita bayar. Dari sini, fotokopi hasil data total biaya tersebut (4-5 kali) kemudian serahkan ke kasir bedah. Kalau ada kekurangan sanggup dibayar, kalo dibayar semua oleh BPJS ya alhamdulillah. Balik ke ruangan rawat inap... dan selesai sudah urusannya.

- Anw, kadang suka diminta DP uang oleh TU ruangan. Waktu ibu saya operasi pertama kali saya bayar DP, dan ternyata proses refund-nya orisinil ribeeett banget. Kalo di GRIU Graha Amerta sih refundnya gampang: nunggu ditelpon ambil deh. Nah, kalo di IRNA Bedah Dr. Sutomo nya, untuk refund kita harus ngurus itu ke kantor bab keuangan Dr. Sutomonya (letaknya di bab depan), habis gitu ke loket BPJS lagi, ke kasir lagi, ke ruang rawat inap lagi. Beeeuuhhh... ngurus refund ini saya hingga harus 3 kali bolak balik ke rumah sakit. Kaprikornus saran saya, nggak usah DP jikalau kira-kira biaya operasinya kecil dan hampir seluruhnya ditanggung BPJS.

- Lalu, apakah BPJS memang menanggung seluruh biaya?
Tiga kali ibu saya operasi kemarin, seluruh biaya ditanggung oleh BPJS. Kaprikornus paling keluar duit untuk beberapa obat yang tidak masuk ke list cover-an BPJS. Hidup BPJS!




....
agar pengalaman saya ini membantu teman-teman.
Nggak ada hubungannya ama film ya?
Suka-suka saya!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Niken Bicara Pengalaman : Ngurus Rawat Inap Dengan Bpjs"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel